11 April 2014
Penulis : Sri Yunita


Oleh Sri Yunita

1.      LATAR BELAKANG MASALAH

Permasalahan belajar di kelas sudah umum dijumpai di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perpendidikan tinggi. Rendahnya motivasi belajar peserta didik dan suasana belajar yang terlalu formal dan monoton masih menjadi pemandangan yang sering dijumpai di kelas-kelas. Pendidik masih menjadi “center” dari pembelajaran di kelas. Pendidik menentukan tujuan pembelajaran di kelas, menentukan materi, menyampaikan materi, memberikan tes, memberi pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Peserta didik juga terbiasa pasif, sebagian peserta didik mendengar penjelasan pendidik, sebagian lainnya terkadang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Peserta didik yang mendengar penjelasan pendidik sebagian hanya mendengarkan tanpa berniat sungguh-sungguh untuk mengerti apa yang disampaikan.
Pada akhirnya, sebagian besar peserta didik sesungguhnya tidak belajar. Mirisnya, terkadang sebagian pendidik tidak terlalu peduli dengan aktivitas yang dilakukan peserta didik selama itu tidak mengganggu teman dan tidak terlalu berisik. Pendidik hanya berusaha melanjutkan pelajarannya, berusaha fokus pada peserta didik yang masih berusaha mendengarkan pembelajaran yang disampaikan.
Selama ini pendidik dalam memilih model pembelajaran yang diterapkan di kelas, kurang memperhatikan aspek-aspek yang seharusnya diperhatikan dalam memilih model pembelajaran yang akan diterapkan di kelas misalnya, karakteristik tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi, media, tempat dan waktu belajar. Salah satu faktor yang selama ini sering luput dari perhatian pendidik adalah karakteristik peserta didik. Beragam karakteristik dan potensi peserta didik yang terakomodasi dalam pembelajaran membantu pendidik mencapai tujuan pembelajaran lebih efektif sekaligus meningkatkan antusiasme peserta didik untuk belajar.
Pembelajaran selama ini juga kurang menyentuh dunia nyata. Peserta didik belajar materi buku yang dijelaskan pendidik, tanpa mengetahui apa makna dan tujuan mempelajari hal tersebut. Peserta didik kesulitan mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dengan implikasi kehidupan nyata, karena selama ini belajar dianggap hanya sebagai tugas agar memperoleh nilai bagus dan lulus dengan hasil memuaskan.
Implikasi perkembangan neuroscienedalam pembelajaran menunjukkan sangat penting mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan menghargai perbedaan serta keunikan tiap individu. Pembelajaran seharusnya menyenangkan, mengakomodasi perbedaan gaya belajar, kecerdasan, dan mengoptimalkan potensi otak.
Permasalahan belajar seperti yang disebutkan di atas sudah biasa terjadi dari tahun ke tahun tanpa perubahan berarti dan upaya yang serius dari berbagai kalangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Figur yang berperan penting untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah pendidik. Pendidik memiliki peranan yang penting dalam menentukan keberhasilan belajar di dalam kelas. Pendidik bertugas merancang pembelajaran di kelas, memotivasi peserta didik, dan membangun suasana belajar yang menyenangkan di kelas. Keberhasilan pendidik dalam mengelola kelas berpengaruh terhadap kondisi psikis peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, model pembelajaran yang tepat dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang positif untuk belajar, memaksimalkan potensi diri peserta didik dan mencapai tujuan belajar dengan efektif dan efesien.
Sebagai pendidik profesional, kemampuan memilih dan merancang pembelajaran di kelas menjadi suatu keharusan. Model pembelajaran yang tepat adalah model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik tujuan belajar, karakteristik peserta didik dan karakteristik materi dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar, tempat dan waktu belajar. Selain mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, pendidik juga perlu mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat saat ini terutama perkembangan teknologi informasi berpengaruh hampir di seluruh lini kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Pembelajaran berbasis teknologi informasi sudah cukup sering didengung-dengungkan, hanya saja aplikasi di kelas tidak semudah yang dibayangkan. Keterbatasan fasilitas dan kurangnya kompetensi pendidik dan peserta didik untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu hambatan sulitnya penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Selain itu, kurangnya kompetensi pendidik dalam mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran menjadi salah satu hambatan pendidik menggunakan teknologi informasi ke dalam pembelajaran di kelas.

2.      IDENTIFIKASI MASALAH

  • Hasil belajar peserta didik belum memuaskan
  • Motivasi belajar peserta didik di kelas kurang
  • Model pembelajaran yang digunakan pendidik cenderung teacher center dan monoton
  • Belajar belum menyentuh dunia nyata dan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan
  • Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran di kelas masih minim

3.      SOLUSI

Mengembangkan model pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan karakteristik peserta didik, bermakna, kooperatif dan berbasis teknologi informasi yaitu model pembelajaran KKN-IT

4.      KAJIAN TEORI

a.      PembelajaranKonstruktivisme
Konstruktivis memerupakan pandangan filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Giambatista Vico tahun 1710.Vico menjelaskan bahwa “mengetahuiberarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur apa yang membangun sesuatu itu (Suprapto, 1997:24). Menurut Brooks & Brooks (1993) konstruktivis memerupakan suatu filosofi dan bukan suatu strategi pembelajaran.Karli (2003:2) menyatakan konstruktivisme adalah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang mneyatakan bahwa dalam proses belajar diawali dengan terjadinya konflik kognitif yang hanya dapat diatas melalui pengetahuan diri dan pada akhir proses belajar pengetahuan akan dibangun oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Pandangan konstruktivisme dilandasi oleh teori Piaget tentang skema, asimilasi, akomodasi dan equilibration, konsep zone of proximaldevelopment dari Vigotsky, teori Bruner tentang discovery learning, teori Ausubel tentang belajar bermakna dan interaksionisme semiotik. Suparno (1997:49) menjelaskan bahwa secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah 1) pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri, baik secara personal maupun secara sosial, 2) pengetahuan tidak dipindahkan dari pendidik ke peserta didik, kecuali dengan keaktifan peserta didik sendiri untuk bernalar, 3) peserta didik aktif mengkonstruksi secara terus menerus sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap serta sesuai dengan konsep ilmiah, 4) pendidik berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi peserta didik berjalan mulus.
Berikut ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme :
  • Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan
  • Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara
  • Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret
  • Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu lingkungannya
  •  Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis
  •   Melibatkan peserta didik secara emosional dan sosial
Ada sejumlah implikasi yang relevan terhadap proses pembelajaran berdasarkan pemikiran konstruktivisme antara lain :
  • Pendidik tidak dapat secara langsung memberikan informasi, melainkan proses  belajar hanya akan terjadi bila peserta didik berhadapan langsung dengan realitas atau objek tertentu. Dengan demikian tugas pendidik dalam proses pembelajaran adalah menyediakan objek pengetahuan secara konkret, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan pengalaman peserta didik atau memberikan pengalaman-pengelaman hidup konkret
  •  Proses belajar harus menakankan pada aktivitas personal peserta didik. Atas dasar pemahaman terhadap tingkat perkembangan kognitif peserta didik pendidik mampu merancang pengalaman belajar yang dapat merangsang struktur kognitif peserta didik. Seorang pendidik harus menciptakan pengalaman yang autentik dan alami secara sosial kultural untuk para peserta didiknya.
  • Dalam pembelajaran pendidik harus member otonomi, kebebasan peserta didik untuk melakukan eksplorasi masalah dan pemecahan secara individual dan kolektif, sehingga daya pikirnya dirangsang untuk secara optimal dapat aktif membentuk pengetahuan dan pemaknaan yang baru
  •   Pendidik dalam proses pembelajaran harus mendorong terjadinya kegiatan kognitif tingkat tinggi seperti mengklasifikasi, menganalisis, menginterpretasikan, memprediksi dan menyimpulkan
  • Pendidik merancang tugas yang mendorong peserta didik untuk mencari pemecahan masalah secara individual dan kolektif sehingga meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi dalam mengembangkan pengetahuan dan rasa tanggungjawab pribadi
  • Dalam proses pembelajaran, pendidik harus member peluang seluas-luasnya agar terjadi proses dialogis antara sesame peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik, sehingga semua pihak merasa bertanggungjawab bersama (Suparno, 1997:61-69)
b.      Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif pertama kali muncul dari para filosofis di awal abad Masehi yang mengemukakan bahwa dalam belajar seseorang harus memiliki pasangan atau teman sehingga teman tersebut dapat diajak untuk memecahkan suatu masalah. Model pembelajaran kooperatif adalah model belajar mengajar yang didesain untuk mengembangkan kerjasama dan tanggung jawab peserta didik. Model ini dirancang untuk mengurangi persaingan yang banyak ditemui di kelas dan cenderung mengarah pada pola “kalah dan menang” (Slavin, 1994). Definisi di atas menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antara peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar.
Johnson-johnson (Isjoni, 2010:17) menyebutkan pembelajaran kooperatif adalah mengelompokkan peserta didik di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar peserta didik di dalam kelas bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut. Sedagkan menurut Lie (2004:12), model pembelajaran kooperatif atau disebut juga dengan pembelajaran gotong-royong merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur.
Menurut Thomson, et al (dalam Karuru, 2007), pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran. Di dalam pembelajaran kooperatif peserta didik belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 peserta didik, dengan kemampuan yang heterogen dengan maksud untuk melatih peserta didik menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif peserta didik dilatih menjadi pendengar yang baik, berpendapat dan memberi penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, peserta didik diberi lembar tugas untuk dikerjakan di dalam kelompok. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan belajar (Slavindalam Karuru, 2007).
Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Corebima, dkk, 2002). Melalui anggota kelompoknya baik kemampuan akademik, jenis kelamin, usia, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Para peserta didik juga diharapkan menerima keragaman tersebut dan memaksimalkan kerja sama kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok akan mencapai hasil belajar yang optimal.
Melalui belajar kelompok, secara khusus peserta didik berperan sebagai sumber belajar antara satu dengan yang lain, berbagi dan mengumpulkan informasi serta saling membantu untuk mencapai keberhasilan bersama. Dengan kata lain peserta didik sebagai tutor sebaya bagi kelompoknya, sebab kecenderungan bahwa peserta didik lebih mudah menerima dan memahami informasi dari teman sebayanya.Menurut Arikunto (1996:62) adakalanya peserta didik lebih mudah memperoleh keterangan dari teman sebayanya karena malu untuk bertanya kepada pendidik.
Roger dan David Johnson dalam Lie (2002) menyatakan untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran kooperatif ada 5 unsur yang harus diterapkan, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan; (3) tatap muka; (4) komunikasi pada anggota; dan (5) evaluasi kelompok.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap anggota kelompok saling bekerja sama menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama. Adanya kerjasama kelompok menunjukkan bahwa keberhasilan kelompok ditentukan oleh hasil belajar bersama dalam kelompok, sehingga dalam satu kelompok terjadi ketergantungan positif. Selain itu setiap anggota kelompok bertanggung jawab perseorangan, maka setiap anggota kelompok berkesempatan memberi kontribusi bagi kesuksesan kelompoknya.
Setiap kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan dalam pembelajaran kooperatif selalu melibatkan interaksi dan komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Interaksi yang terjadi diantara anggota kelompok membantu peserta didik meningkatkan pemahaman suatu konsep sebab peserta didik lebih mudah berkomunikasi dengan teman sebayanya melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bila dibandingkan berkomunikasi dengan pendidik. Interaksi dan komunikasi yang muncul dalam pembelajaran diharapkan berjalan secara multi arah.
Kegiatan pembelajaran selalu diakhiri dengan evaluasi, tujuannya adalah untuk mengatur ketercapaian tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif menekankan evaluasi kelompok yang berarti keberhasilan peserta didik mencapai tujuan belajar sangat tergantung pada hasil belajar kelompok. Kelompok yang memperoleh skor tertinggi berhak memperoleh penghargaan.
Model pembelajaran kooperatif ini mempunyai kelebihan-kelebihan yaitu: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, 2) peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya, 3) dapat meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran, 4) dapat meningkatkan pemahaman dalam prestasi belajar. Keuntungan ini akan lebih apabila dilaksanakan dalam kelas kecil atau dengan jumlah peserta didiknya sedikit.
c.       Pembelajaran berbasis Neurosciene
Neurosains adalah ilmu yang khusus mempelajari neuron (sel saraf). Sedangkan neurosains pembelajaran adalah ilmu pengetahuan tentang hubungan sistem saraf dengan pembelajaran dan perilaku. Sel-sel saraf ini yang menyusun sistem saraf, baik susunan saraf pusat (otak dan saraf tulang belakang) maupun saraf tepi 31 pasang saraf spinal dan 12 pasang saraf kepala). Umumnya para neurosaintis memfokuskan pada sel saraf yang ada di otak. Sel saraf bukan merupakan unit terkecil, karena yang disebut unit terkecil adalah sinapsis (titik pertemuan dua sel saraf yang memindahkan dan meneruskan informasi). Bahkan, ini berlangsung pada tingkat molekuler seperti gen-gen. Semua yang berlangsung di tingkat sinapsis menjadi dasar dari sensasi, persepsi, proses belajar dan memori serta kesadaran. Otak merupakan komponen fisik dan fungsional yang mendasari proses belajar. Pengetahuan tentang otak tidak saja penting dalam proses pembelajaran, tetapi keseluruhan dalam proses pendidikan.
Komunitas atau perkumpulan Neurosains didirikan pada tahun 1969, namun pembelajaran mengenai otak sudah dilakukan sejak lama sekali. Beberapa hal yang dipelajari meliputi struktur, fungsi, sejarah evolusi, pengembangan, genetika, biokimia, fisiologi, farmakologi, informatika, komputasi neurosains dan patologi dari sistem syaraf.
Optimalisasi otak pada dasarnya adalah menggunakan seluruh bagian otak secara bersama-sama dengan melibatkan sebanyak mungkin indra secara serentak. Penggunaan berbagai media pembelajaran merupakan salah satu usaha membelajarkan seluruh bagian otak, baik otak kiri maupun otak kanan, rasional maupun emosional atau bahkan spiritual. Permainan warna, bentuk, tekstur dan suara sangat dianjurkan. Ciptakan suasana gembira karena akan merangsang keluarnya endorfin dari kelenjar di otak dan selanjutnya mengaktifkan asetilkolin di sinapsis. Seperti diketahui sinapsis yang merupakan penghubung antar sel saraf menggunakan zat kimia terutama asetilkolin sebagai neurotransmitternya. Dengan aktifnya aseltilkolin maka memori akan tersimpan dengan lebih baik.
Lebih jauh suasana gembira akan mempengaruhi cara otak dalam memproses, menyimpan dan mengambil kembali informasi. Tiga hal penting dalam belajar menurut Susan (1997) adalah: 1) bagaimana mengambil dan menyimpan informasi dengan cepat, menyeluruh dan efisien, 2) bagaimana menggunakannya untuk menyelesaikan masalah, dan 3) bagaimana menggunakannya untuk menciptakan ide. Optimalisasi dapat dilakukan dengan membuatnya dalam keadaan waspada yang relaks sebelum dimasuki informasi.
Musik yang menenangkan dan latihan pernafasan dapat menghilangkan pikiran yang mengganggu dan mengkondisikan otak agar waspada dan relaks. Musik juga dapat mengaktifkan otak kanan untuk siaga menerima infromasi dan membantu memindahkan infromasi tersebut ke dalam bank memori jangka panjang. Musik memang membantu proses transmisi pesan yang berlangsung di ujung-ujung saraf. Gelombang otak yang berada pada posisi alfa telah memungkinkan pemaduan, pengkodisian dan konsilidasi seluruh pesan yang masuk. Kondisi relaks dan waspada merupakan pintu  bawah sadar. Jika informasi dibacakan dengan dibarengi musik dan aroma menenangkan, maka akan mengambang di bawah sadar dan ditransmisikan dengan lebih cepat serta disimpan dalam file yang benar.
Disamping membutuhkan kondisi waspada yang relaks, otak juga membutuhkan oksigen untuk bekerjanya. Berhentinya pasokan oksigen akan merusak sel-sel saraf di otak. Ruang kelas dengan penyediaan oksigen yang berlimpah sangat kondusif untuk belajar. Pohon-pohon dengan daun rimbun di luar kelas dapat menjadi sumber oksigen. Olahraga yang dilakukan teratur, tidak hanya akan membugarkan tubuh namun juga akan memperkaya darah dengan oksigen dan meningkatkan pasokan okseigen ke otak.
Kekurangan zat besi akan menurunkan rentang perhatian, menghambat pemahaman dan secara umum mengganggu prestasi belajar. Kurangnya kalium akan menurunkan rentang perhatian, menghambat pemahaman, dan secara umum mengganngu prestasi belajar. Kurangnya kalium akan mengurangi aliran listrik di otak sehingga akan menurunkan jumlah informasi yang dapat diterima otak. Dengan demikian makan pagi dengan mengkonsumsi banyak buah, makan siang dengan prinsip empat sehat dan makan malam dengan menambahkan susu akan mengoptimalkan otak. Demikian juga dengan olahraga teratur dan minum banyak air putih sebagai penghilang racun akan mendukung kerja otak.
Rekayasa lingkungan belajar yang nyaman dan relaks akan memudahkan pengambilalihan tugas dari otak kiri yang rasional ke otak intituitif yang menerima asupan informasi bawah sadar. Intuisi adalah persepsi  yang berada di luar pancaindera meskipun tetap bukan hal mistik, karena tetap bersifat logis. Menyimpan informasi dengan pola asosiatif dan tidak linear merupakan langkah pertama menuju pengembangan kemampuan otak yang belum dikembangkan. Belajar melalui praktik akan melibatkan banyak indra sehingga memori akan lebih mantap. Setiap orang memiliki dominasi indra secara individual. Apabila pendidik dapat mendominasi indera pada masing-masing peserta didiknya maka akan dapat memberi layanan dengan tepat.
Secara umum ada 10 hukum dasar otak yang relevan dalam bidang pendidikan. Hukum-hukum itu antara lain: 1) keunikan, 2) kekhususan, 3) sinergisitas, 4) hemisferik dan dominasi, 5) verba-grafis, 6) imajinasi dan fakta, 7) plastisitas sel saraf, 8) kerja serempak, 9) simbiosis rasio-emosi-spriritualitas, dan 10) otak laki-laki-otak perempuan. Otak bukan sekedar struktur (benda-organik), tetapi fungsi dan sifat. Karena itu, otak merupakan titik utama pengembangan manusia dalam bidang pendidikan. Tidak saja untuk belajar mengajar tetapi juga bagi pendidikan secara keseluruhan. 
1.             Keunikan
Otak merupakan sistem yang dinamis atau sistem yang hidup. Otak tidak saja tumbuh dan berkembang tetapi otak juga terbuka terhadap intervensi dari luar. Karena dapat diintervensi dari luar, otak setiap orang itu unik. Pengalaman, pendidikan dan gaya hidup yang berbeda membuat otak menjadi berbeda. Otak dapat berkembang tak terbatas tanpa memperbesar ukuran tengkorak. Otak tidak pernah istirahat, bahkan ketika tidurpun otak bekerja. Sebagai sistem yang hidup, otak harus di charge supaya bisa hidup secara dinamis. Ahli otak memperkirakan bahwa manusia rata-rata baru memakai 20-50% dari potensi otak. Potensi alam bawah sadar, intuisi dan konektivitas belum dipakai secara baik. Hal tersebut menjadikan setiap orang berbeda dalam banyak hal. Karena itu tidak ada teknik belajar yang baku dan tunggal untuk semua orang. Pendidik harus dapat mengemas teknik-teknik belajar yang memperhatikan keunikan ini.
2.             Kekhususan
Para ahli menemukan kemampuan otak berkaitan dengan kekhususan seseorang dalam memanfaatkannya. Kemampuan ini didukung oleh perbedaan struktur otak pada setiap orang. Perbedaan ini terjadi antara lain karena manifestasi kekhususan genetik pada proses perkembangan susunan syaraf pusat. Prinsip kedua ini menunjukkan adanya keunggulan yang bersifat khas pada setiap orang. Anak yang unggul dalam bidang matematika tidaklah berarti lebih unggul dibandingkan dengan anak-anak lain yang pintar main basket, menari, atau memainkan biola. Sekolah yang baik harus memberikan ruang yang luas bagi pengembangan semua kecerdasan ini.
3.             Sinergisitas
Otak dan seluruh bagian tubuh, terutama organ gerak dan organ indera memiliki hubungan sinergis. Bagian motorik dan sensorik di otak memiliki hubungan saraf melalui pelepasan zat-zat kimia bernama neurotransmitter dengan indera dan organ gerak. Rangsangan pada beberapa organ secara bersamaan akan memberikan efek lebih baik dibandingkan hanya 1 organ. Otak lebih cepat menangkap informasi yang melibatkan dua kelompok organ ini sekaligus. Keadaan otak dalam kondisi alfa (gelombang otak 8-14 kali per menit) merupakan keadaan yang paling optimal untuk belajar. Keadaan ini akan merilekskan otot-otot, menstabilkan denyut jantung. Belajar di bawah tekanan, pemaksaan dan dalam keadaan lelah akan merangsang otak memasuki kondisi beta. Dalam kondisi beta ini proses penerimaan dan pengelolaan informasi menjadi tidak efektif. Pembelajaran dan pendidikan harus dapat mempertahankan sinergisitas otak- tubuh.
4.      Hemisferik dan dominasi
Dalam prinsip ini setiap orang memiliki gaya dan cara yang unik dalam belajar, pemerolehan informasi dan strategi pemecahan masalah. Tidak ada otak yang sama. Karena itu, tidak ada teknik belajar mengajar yang sama.
5.      Verba-grafis
Memori akan tertata dengan baik, efektif dan efisien jika diformulasikan dalam bentuk kata dan gambar. Memori akan tertata dengan baik, efektif dan efisien jika diformulasikan dalam bentuk kata dan gambar. Pembuatan catatan yang baik tidak saja untuk melestarikan informasi di buku tulis, tetapi juga memudahkan otak untuk mengkode, menyimpan dan memanggil kembali informasi tersebut.
6.      Imajinasi dan fakta
Imajinasi dan fakta merangsang kerja otak dengan cara yang sama. Kejadian yang bersifat traumatis dan emosional akan merangsang otak bekerja sama persis jika kejadian itu hanya dibayangkan. 

7.      Plastisitas sel saraf
Setiap keping informasi disimpan dalam sel-sel saraf. Tepatnya, disimpan dalam bentuk perubahan molekul-molekul kimia di dalam dan di luar sel saraf. Jika informasi diterima dengan cara yang cocok dengan mekanisme otak, akan terjadi penguatan hubungan antar sel saraf melalui perubahan molekuler. Semakin sering otak dipakai, semakin banyak perubahan molekuler yang terjadi dan semakin kuatlah memori. Perubahan akan semakin cepat terjadi jika berkaitan dengan informasi yang tidak lazim. Hal-hal yang tak lazim lebih cepat merangsang otak.
8.      Simultanitas
Ketika merespon sebuah informasi, seluruh bagian otak bekerja sama secara serempak. Walaupun pusat pengaturan informasi berada di bagian yang berbeda-beda di otak, bagian-bagian itu akan bekerja serempak ketika menerima dan memproses informasi. Ketika melihat sebuah gambar bergerak, bagian otak yang menyerapi bentuk, gerakan, warna dan nuansa emosi akan segera bereaksi. Hasilnya adalah respons yangutuh. Kerja serempak otak ini mirip dengan orkestra yang dipimpin oleh seorang dirigen. Jika seluruh bagian otak dapat dirangsang untuk bekerja secara serempak, penyerapan informasi akan menjadi lebih efektif. Otak memiliki kemampuan mendeteksi perubahan secepat apapun, dalam hitunga detik.
9.      Simbiosis rasio-emosi-spiritualitas
Rasio dan emosi menjadi penopang utama spiritualitas manusia. Jika rasio dan emosi memberikan kepada manusia keunggulan yang bersifat teknik dan diperlukan untuk mengarungi kehidupan dunia, maka spiritualitas memerlukan makna bagi tindakan-tindakan manusia. Spiritualitas yang baik biasanya tampak dari rasio dan emosi yang baik. Otak menyediakan piranti emosi bagi manusia untuk melakukan tindakan yang mengarah pada pemerolehan makna hidup, yaitu1) kesadaran diri, 2) manajemen suasana hati, 3) motovasi diri, 4) empati, dan 5) manajemen relasi sosial. Untuk dapat melakukan lima hal ini, rasio, emosi dan spiritualitas bekerja keras secara simbiosis mutualistik. Ini adalah kunci-kunci sukses kehidupan.
10.  Otak laki-laki-otak perempuan
Dalam belajar, perempuan dan lelaki memiliki gaya berpikir dan belajar yang berbeda. Karena itu pengelolaan kelas akan jauh lebih efektif dan optimal jika kedua jenis kelamin ini dibimbing menurut gaya masing-masing. Model pembelajaran tutorial akan lebih optimal mengerahkan potensi kedua jenis kelamin ini. Namun, ini tidak berarti harus ada pemisahan kelas antara kedua jenis kelamin. Yang paling penting, pendidik harus bisa memahami bagaimana mereka berpikir sehingga lebih mudah membimbing
Optimalisasi otak pada dasarnya adalah menggunakan seluruh bagian otak secara bersama-sama dengan melibatkan sebanyak mungkin indra secara serentak. Penggunaan berbagai media pembelajaran merupakan salah satu usaha membelajarkan seluruh bagian otak, baik kiri maupun kanan, rasional maupun emosional, atau bahkan spriritual. Permainan warna, bentuk, tekstur dan suara sangat dianjurkan. Menciptakan suasana gembira dan menyenangkan untuk merangsang otak untuk bekerja lebih baik dalam mengolah informasi.
Optimalisasi dapat dilakukan dengan membuatnya dalam keadaan waspada yang relaks sebelum dimasuki informasi. Music yang menenangkan dan latihan pernapasan dapat menghilangkan pikiran yang mengganggu dan mengkodisikan otak agar waspada dan relaks. Musik juga dapat mengaktifkan otak kanan untuk siaga menerima informasi dan membantu memindahkan infromasi tersebut ke dalam bank memori jangka panjang.

d.      PembelajaranBerbasisTeknologiInformasi
Pendidikan berbasis TI merupakan suatu sistem pendidikan dimana proses belajar-mengajar berlangsung dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam sistem ini interaksi antara pengajar dan peserta didik ajar tidak harus saling bertatap muka secara fisik seperti halnya dalam sistem pendidikan konvensional, mereka bertemu dalam ruang teknologi informasi dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer.
Materi pembelajaran, buku berubah menjadi informasi digital pada sistem pembelajaran berbasis TI. Karena perubahan tersebut, mereka tidak harus bertatap muka secara fisik, proses belajar mengajar berubah. Dalam pendidikan berbasis TI Pengajar dan peserta harus sama-sama menguasai teknologi informasi yang digunakan didalam pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berlangsung.
Media pendidikan cetak maupun elektronik merupakan media yang tidak kalah menariknya dengan media pendidikan berbasis cyber. Karena media cetak maupun elektronik dapat juga membantu proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan mudah digunakan oleh para pendidik serta mudah didapatkan, seperti buku cetak, koran, majalah sampai LCD. Sedangkan media cyber merupakan media yang lebih mahal dibandingkan dengan media cetak dan elektronik meskipun lebih menarik, karena media cyber membutuhkan jaringan internet atau satelit, sebagai contoh pembelajaran via video conference, pembelajaran via website.
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu ;
a.         peserta didik dan pendidik harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan pendidik
b.        harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi peserta didik dan pendidik
c.         pendidik harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu peserta didikagar mencapai standar akademik 



4.      SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

Nama Mata Kuliah      : Pendidikan Kewarganegaraan
Kode Mata Kuliah      :
SKS                             : 2 SKS
Waktu Pertemuan       : 100 menit
Pertemuan Ke             : 3
A. Kompetensi Dasar
Mampu menjelaskan hak dan kewajiban negara dan warga negara
B. Pokok Bahasan
Hak dan Kewajiban Negara dan Warga Negara
C. Sub Pokok Bahasan

  • Hak
  • Kewajiban
  • Hak dan kewajiban negara

D. Model Pembelajaran
-     Model KKN-IT
E. Kegiatan Belajar Mengajar
Fase
Tahapan
Kegiatan
Waktu
Awal
-       Ice Breaker

-       Motivasi

-       Membentukkelompok

-       Mempersiapkanjurnalpembelajaran
-       Apersepsi
-       Memilih topik

-       Menemukanmasalah
-       Menentukanfokusmasalah
-       Menetapkantujuan
  • Dosenmembuatpermainanatraktif-edukatif yang berkaitandengan topik (diiringi musik instrumental
  • Dosenmemberikanmotivasikepada peserta didik (diiringi musik instrumental)
  • Dosendan peserta didik membentukkelompok-kelompokkecilheterogen
  • Peserta didik mempersiapkanjurnalpembelajaran
  • Dosenmenjelaskangambaranbesarmateridalambentukmind map danmemberikanbeberapa topik pembelajarandankelompokmemilihbeberapatopik yang diminati
  • Kelompokmencaripermasalahanberkaitandengantopik yang dekatdengankehidupansehari-harimelalui internet (dapatberupaartikel, berita, video, gambardansebagainya)
  • Dosenbersama peserta didik memilihdanmenfokuskanpermasalahan yang akandiinvestigasi)
  • Peserta didik menulistujuanpembelajaran di dalamjurnalpembelajaran
30 menit
Inti
-       Investigasi







-       Ice Breaker


-       Presentasi
-       Diskusi
  • Setiapkelompokmerencanakancaramenyelesaikanpermasalahan
  • Setiapkelompokmembagitugasanggotakelompok
  • Kelompokmencariliterature dariberbagaisumberuntukmencarisolusipermasalahan
  • Kelompokberdikusi
  • Kelompokmerencanakanpresentasi
  • Kelompokmembuatpresentasidalambentukpowerpoint
  • Pendidik dan peserta didik melakukan permainan untuk menyegarkan pikiran dan suasana (diiringi musik instrumental)
  • Setiapkelompokmempresentasikanhasildiskusinya
  • Diskusikelasdenganbimbingandosen
60 menit
Akhir
  • Tanya jawab
  • Simpulkan, rangkumkandanunggah
  • Refleks
  • Tes
  • Dosendan peserta didik berbagipendapatterhadaphasildiskusi
  • Peserta didik membuatkesimpulandanrangkumandalambentukmind mapdansiapuntukdiunggahdalam blog pribadikelas
  • Setiap peserta didik melakukanrefleksi yang dituliskan di jurnalpembelajaran
  • Peserta didik mengerjakantes
20 menit

F.  Evaluasi

  1. 1.      Jelaskan perbedaan hak dan kewajiban!
    2.      Jelaskan apa yang dimaksud hak absolut/mutlak!
    3.      Jelaskan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban negara terhadap warga negara!
    4.      Jelaskan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban warga negara terhadap negara!
    5.   Sebutkan pasal yang menyebutkan hak warga negara terhadap negara dalam hal pekerjaan dan penghidupan!

G. Sumber Belajar
-          Gafur DA Abd. (2003). Keterampilan Kewarganegaraan. Direktorat PLP Dirijen PDM Depdiknas. Jakarta
-          Hikam Muhammad. (1999). Politik Kewarganegaraan. Jakarta: Erlangga
-          Husin, Suady, (2009). Ilmu Kewarganegaraan. Medan : Laboratorium Pendidikan Pancasila, Fakultas Ilmu Sosial Unimed
-          Lubis M. Solly. (1992). Hukum Tata Negara. Bandung: Mandar Maju
-          Muchon, AR. (2003). Etika Kewarganegaraan, Direktorat PLP Dirijen PDM Depdiknas
-          TIM ICCE UIN, (2003). Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: UIN Jakarta
-          Winarno, (2009). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Bumi Aksara










TP UNJ-Unimed Angkatan 2013 . Powered by Blogger.

Articles

Followers