18 April 2014



UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MULTIMEDIA


PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN INPRO   TOP FREE TERINTEGRASI MEDIA PADA  MATA KULIAH SENI TEKSTIL NUSANTARA GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIFITAS DAN KARAKTER MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA UNIMED 

Penulis: Sumarsono

OLEH
SUMARSONO

DOSEN;
PROF. DR. BINTANG SITEPU, M.Pd,
PROF .DR.EFFENDI NATUPULU,M.Pd

PROGAM PASCASARJANA S3
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNJ BEKERJASAMA DENGAN
UNIVERSITAS NEGRI MEDAN
2013

Abstrak
Mata kuliah seni Tekstil Nusantara merupakan mata kuliah wajib yang harus dikuasi semua mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa Unimed, sehingga penguasaan kompetensi sangat diperlukan. Penguasaan kompetensi memerlukan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan metode pembelajaran yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah   model pembelajaran terintegrasi media seni patung dasar yang efisiensi dan efektifitas untuk meningkatkan hasil belajar serta kemampuan kreatifitas pada mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa.
            Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bersifat penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester IV pendidikan seni rupa. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan eksperimen dengan pemberian tugas yang bersifat eksploratif inovatif.
            Hasil penelitian yang diharapkan adalah tersusunnya metode pembelajaran inquiri proyek pada mata kuliah proteksi sistem tenaga yang bersifat eksploratif  inovatif sehingga mampu meningkatkan kemampuan kompetensi mahasiswa. Selain itu hasil temuan ini dapat dijadikan rujukan untuk pembelajaran mata kuliah lain yang memiliki kesamaan struktur materi dan terkait dengan lingkungan dan institusi pendukung yang tersedia.




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Mata kuliah bidang keahlian yang ada di Jurusan Pendidikan Seni Rupa ada yang memerlukan praktek dan ada yang tidak. Namun demikian mata kuliah yang seharusnya memerlukan praktek tidak dapat dipraktekkan secara langsung. Demikian halnya dalam pengetahuan terhadap bahan, peralatan, sistem kerja studio yang sesungguhnya kadang-kadang sulit menjelaskan pada mahasiswa karena jurusan belum memiliki media sesuai dengan matakuliah yang ada .
Kondisi tersebut di atas menyebabkan mahasiswa hanya memahami secara teoritis saja, selain tidak memahami cara kerjanya juga tidak mengetahui bagaimana bentuk benda yang sesungguhnya. Hal ini menyulitkan pemahaman pada mahasiswa, sehingga kompetensi yang diharapkan tidak tercapai.
Mata kuliah Seni Patung termasuk salah satu mata kuliah bidang keahlian yang harus dikuasai mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa semester III, dan IV. Kompetensi yang diharapkan pada mata kuliah ini adalah mahasiswa memahami terhadap proses pengolahan bahan/media, peralatan kerja, cara kerja dan proses penciptaan karaya seni di studio sampai pada perancangan suatu bentuk karya tekstil.
Penguasaan  bahan, peralatan, sistem kerja studio dan kemampuan merancang menciptakan karya bagi mahasiswa sangat penting karena bahan,semua peralatan kerja, sistem kerja di studio dan kemampuan merancang karya akan berpengaruh pada hasil karya seni yang diciptakan.
Berdasarkan hal tersebut di atas diperlukan upaya model pembelajaran yang terintegrasi media bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa agar meningkat kemampuan kreativitasnya   serta karakter sesuai kurikulum 2013. Oleh karena mahasiswa secara langsung melihat bahan,benda peralatan kerja dan bagaimana cara mengoperasikan peralatan  khususnya peralatan yang digunakan di studio patung.. Penguasaan kompetensi mata kuliah seni patung sangat penting bagi mahasiswa pendidikan seni rupa dalam jangka pendek sebagai bekal pengetahuan dalam  industri pariwisata, untuk jangka panjang sebagai bekal pengetahuan untuk diajarkan pada peserta didiknya.
Salah satu metode pembelajaran yang memungkinkan untuk dailaksanakan dalam menghadapi kondisi tersebut di atas adalah dengan metod pembelajaran inkuir proyek topfre, yaitu yang menekankan pada usaha mahasiswa mendapat pengetahuan lebih mendalam terhadap topik   serta merasakan dan menuangkan (feling dan respon) dalam bentuk tugas terstruktur (proyek karya tekstil) dan mampu mempertanggungjawakan terhadap apa yang telah dilakukan. Metode pembelajaran ini lebih efektif dilakukan secara kelompok kecil yang memungkinkan mahasiswa dapat bekerjasama untuk saling melengkapi satu sama lain.
Penerapan metode pembelajaran proyek mata kuliah seni patung sangat penting mengingat jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini cukup banyak rata-rata perkelas 30 mahasiswa. Dengan jumlah yang demikian maka untuk meningkatkan penguasaan kompetensi secara utuh bagi mahasiswa secara keseluruhan banyak menghadapi kendala. Demikian halnya ketersediaan alat praktek yang berhubungan dengan sistem keamanan kerja di studio belum tersedia secara lengkap, sehingga yang memungkinkan mahasiswa mengenal, memahami dan merencanakan sistem keamanan kerja studio melalui belajar secara langsung di lapangan yang sesungguhnya. Oleh karena itu metode pembelajaran proyek sangat penting untuk pengembangan mata kuliah seni patung khususnya tekstil nusantara .

B.  Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah bagaimana penerapan model pembelajaran inkuiri proyek topfre terintegrasi media  pada mata kuliah seni tekstil nusantara

C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran INRO TOP FREE (Inkuiri Proyek Topik feling respon dan evaluasi) pada mata kuliah seni tekstil pada mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa
2.    Sejauh mana peningkatan kemampuan Kreatifitas dan Karakteri mahasiswa Jurusan pendidikan seni rupa Unimed
3.    Sejauh mana efisiensi dan keefektifan pembelajaran IPRO pada mata kuliah seni tekstil nusantara
D.  Tujuan Khusus
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui penerapan model pembelajaran terintegrasi media pada mata kuliah seni tekstil Jurusan Pendidikan Seni Rupa Unimed
2.    Meningkatkan kemampuan kreatifitas dan karakter mahasiwa Jurusan pendidikan seni rupa Unimed
3.    Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran mata kuliah seni tektil nusantara

E.       Keutamaan Penelitian
1.    Penelitian ini mencoba menerapkan model pembelajaran inquiri proyek Top Fre (INRO TOPFRE) terintegrasi media pada mata kuliah seni tekstil sebagai upaya meningkatkan kemampuan kreatifitas dan karakteri mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa
2.    Pembelajaran inkuiri proyek dalam mata kuliah seni tekstil dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran
3.    Pemanfaatan institusi dalam hal ini Unimed dan lingkungan terkait (jaringan pariwisata) sebagai sumber belajar untuk menggantikan ketidak tersediaan peralatan di Jurusan Pendidikan seni Rupa FBS Unimed

F.       Target Temuan/ Inovasi
Target temuan/ inovasi dalam penelitian adalah didapatkan modell pembelajaran IPRO terintegrasi media yang efisien dan efektif dalam meningkatkan kemampuankreatifitas dan karakter mahasiswa pada mata kuliah seni tekstil. Hasil yang lain adalah tersusunnya model pembelajaran IPRO mata kuliah seni tekstil dan untuk mata kuliah yang lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA.

A.      Model Pembelajaran Inquiri
            Inquiry learning emphasizes constructivist ideas of learning, where knowledge is built from experience and process, especially socially based experience. Therefore learning proceeds best in group situations (wikipedia, 2013). Metode inquiri berdasarkan filosofi  konstruktifisme yaitu dalam membentuk pengetahuan baru pembelajar dalam proses belajar berperan aktif dengan melakukan proses kegiatan dan mempraktekan. Demikian halnya Edmonton, Alberta (2013) menyatakan
Inquiry-based learning is a process where students are involved in their learning, formulate questions, investigate widely and then build new understandings, meanings and knowledge. That  knowledge is new to the students and may be used to answer a question, to develop a solution or to support a position or point of  view.
Berdasarkan pendapat ini pembelajar akan menemukan pengertian, pemahaman dan pengetahuan baru dari usahanya mencari jawaban yang diformulasikan.
           Model pembelajaran inquiri merupakan metode belajar yang membuat pembelajar lebih aktif untuk menemukan pengetahuan barunya. Hal ini seperti yang disampaikan Joko Sutrisno (2008) yaitu inquiry-based learning is a common method in teaching science that often associated with the active nature of student involvement, investigation and the scientific method, critical thinking, hands-on learning, and experiential learning.
           Model pembelajaran inquiri meliputi 5 langkah yaitu sebagai berikut:
Observation – Students observe a phenomenon that engages their interest and elicits their response. Students describe in detail what they are seeing. They talk about analogies and other examples of the phenomenon. A leading question is established that is worthy of investigating.
Manipulation – Students suggest and debate ideas that might be investigated and develop approaches that  might be used to study the phenomenon. They make  plans for collecting qualitative and quantitative data and then execute those plans.
Generalization – Students construct new principles or laws for phenomena as needed. Students provide a plausible explanation of the phenomenon. Verification – Students make predictions and conduct testing using the general law derived from the previous stage. Application – Students set forth their independently derived and agreed-upon conclusions. The conclusions are then applied to additional situations as warranted (Wenning, 2012)
           Keaktifan pembelajar dalam proses model pembelajaran inquiri diawali dengan melaksanakan observasi dan mendeskripsikan terhadap topik yang akan dibahas. Pada langkah ke dua pembelajar akan mulai memikirkan dan mendiskusikan fenoma hasil pengamatan dengan hukum-hukum atau konsep yang telah ada atau yang sejenis. Berdasarkan langkah ke dua pembelajar dapat menemukan pemahaman dan pengertian konsep baru yang menjadi pengetahuan baru bagi pembelajar. Pengetahuan tentang hukum-hukum      atau konsep baru perlu dicari hubunganya dengan hukum-hukum atau konsep lain yang dapat mendukung atau kontradiksi dari yang telah ditemukan. Akhir dari proses ini adalah pembelajar akan mendapatkan kesimpulan terhadap konsep yang ditemukan dan dapat mengaplikasikan dalam pengetahuan yang lain.
           Pemilihan dan pemakaian metode inquiri di dalam proses belajar mengajar didasarkan pada:
(a) Goals and preconditions
      Application of specific rules or theories and derivation of rules or theories
(b) Principles
      Learning the application of rules and theories is better when the student constructs the  appropriate mental model.
Instructor questioning will help expose student’s misconceptions about rules and theories.
(c) Condition of learning
This theory is good for teaching causal relationships and discovery skills. This theory is inappropriate for teaching facts or concepts.
This methodology is not self-sufficient. Written materials are required as a reference.
The discovery process is inappropriate for learning specific rules and theories.
(d) Required media
Yes; this ID theory requires some sort of written materials for students to have background knowledge (facts and concepts) in order for the discovery process to occur.
(e) Role of facilitator
     Select examples, actively question, expose misconceptions.
(f) Instructional strategies
    Determine goals of teachers and strategies for inquiry teaching (Collins, Allan, Stevens, Albert L.).
Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan penggunaan metode inquiri harus menyesuaikan tujuan pembelajaran, prinsip pembelajaran, kondisi pembelajaran, kebutuhan media, aturan yang akan dilaksanakan dan strateginy dalam pembelajaran. Dengan demikian pemakaian model pembelajaran inquiri yang pokok adalah memperhatikan tema materi yang sesuai dengan model tersebut.

B.   Model Pembelajaran Proyek
         Project work adalah model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya. (Joko Sutrisno, 2008). Senada dengan definisi tersebut Erica Baker, Breanna Trygg, Patricia Otto, et al, ( 2011) peran guru dan pembelajar adalah sebagai berikut “Teachers or mentors facilitate, rather than direct, students as they explore a system, ask questions, look at problems within that system, determine solutions, plan and ultimately implement a project”. Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam pembelajaran model proyek peserta didik lebih aktif dalam proses belajar, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilittor. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran proyek dihasilkan produk sesuai dengan tujuan pembelajaran.
          Model pembelajaran proyek menekankan pada pengalaman belajar yang sesungguhnya dalam membentuk pengetahuan termasuk dalam prinsip pembelajaran konstruktivisme. Hal ini seperti yang diungkapkan Baker, Trygg,  Otto, et al (2011) yang menyatakan sebagai berikut:
five principles of constructivism: (a) the learner should be an active contributor to the educational process since knowledge is not a thing that can be simply given by the teacher at the front of the classroom to students in their desks (b) learner’s current knowledge and experience are critical in new learning situations and need to be taken into account (c) learning occurs from dissatisfaction with present knowledge. (d) learners construct knowledge not only by physically and mentally acting on objects but also through social interactions with others. (e) learning requires application.
Berdasarkan prinsip konstruktivisme ini bahwa dalam belajar peserta didik harus aktif untuk mendapatkan pengetahuan dengan melalui banyak pengalaman yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan dapat menerapkan dalam kondisi nyata.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan model pembelajaran dapat meningkatkan kompetensi peserta didik seperti hasil penelitian Sungkono (2010:1) menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan  hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Pengembangan Media Audio pada Program Studi Teknologi Pendidikan FIP UNY.  Demikian halnya hasil penelitian dari Neumont University (2006)  yang dilakukan oleh National Training Laboratory tentang model pembelajaran yang melibatkan mahasiswa untuk saling berperan aktif dalam proses  pembelajaran sebagaimana yang dikembangkan dalam  Project Based Learning sebagai berikut :  research shows that we retain significantly more of what we learn when we learn by doing or from teaching others than we retain when we learn from lectures or from reading 



Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa daya serap peserta didik akan lebih tinggi apabila dalam proses belajar banyak melibatkan  dalam kegiatan yang sifatnya banyak memberi pengalaman langsung dengan melakukan aktifitas, selain ada kegiatan di kelas dan memakai media pembelajaran.
          Penilaian hasil belajar pada model pembelajaran proyek dilakukan secara menyeluruh, sehingga semua aspek kegiatan siswa mendapat penilaian. Hal ini seperti disampaikan Joko Sutrisno (2008), yang menyatakan bahwa penilaian dengan pendekatan project work pada dasarnya adalah penilaian standar kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, kesesuaian produk/jasa, dan kesesuaian waktu pelaksanaan.

C.      Model Pengembangan Pembelajaran INRO TOP FRE Mata Kuliah SeniTekstil Nusantara

  Model pembelajaran IPRO adalah sebagai model pembelajaran hasil penggabungan antara model pembelajaran inquiri dan proyek. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik selain mendapatkan pengetahuan baru juga menghasilkan karya nyata yang dapat digunakan untuk dirinya sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh peserta didik yang lain.
          Model pembelajaran inquiri memungkinkan untuk digabungkan dengan model belajar proyek karena sifat pembelajarannya banyak memiliki kesamaan. Kesamaan yang utama adalah memberi kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik untuk aktif memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan pengalaman langsung dalam kegiatan belajarnya. Perbedaan pokoknya pada tujuan akhir dari pembelajaran yang mana metode inquiri penekannya adalah penambahan pengetahuan baru yang diperoleh melalui proses kegiatan yang berusaha untuk menemukan jawaban dari konsep yang sedang dipelajari. Adapun tujuan akhir dari model pembelajaran proyek adalah menghasilkan produk yang terkait dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Mata kuliah seni tekstil merupakan mata kuliah wajib, sehingga semua mahasiswa diharapkan menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Penguasaan kompetensi peserta didik dapat dilakukan dengan upaya pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien memerlukan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai sesuai kompetensi yang dibutuhkan dan model pembelajaran yang sesuai.
Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang mampu menjadi alat simulasi atau seperti yang sesungguhnya ada di lapangan memerlukan investasi yang tinggi. Dengan demikian tidak semua peralatan praktek yang dimiliki mampu memenuhi kebutuhan praktek pada mahasiswa. Untuk itu perlu ada upaya lain agar pembelajaran seni patung tidak  hanya teoritas di ruang kuliah atau laboratorium. Usaha yang memungkinkan dengan melakukan kerja sama dengan isntitusi lain (dinas pertaman, unimed, dinas pariwisata) atau mahasiswa mengembangkan konsep yang ada dalam bentuk karya tekstil Nusantara
Model inquiri dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa mendapatkan pengetahuan dari hasil pengamatan dan penelitian. Rancangan pengamatan dan eksplorasi berdasarkan tujuan tema yang telah dipilih, sehingga sesuai kompetensi yang ditetapkan. Model pembelajaran proyek dalam mata kuliah seni patung diharapkan menghasilkan karya yang dapat berupa tulisan ilmiah atau  tekstil t. Dengan demikian pemahaman siswa terhadap pentingnya proteksi/keamanan kerja studio, peralatan dan perencanaan proyek dapat meningkat. Model pembelajaran inquiri dan proyek dalam mata kuliah seni patung dilakukan secara sequential (berkesinambungan) atau bersamaan. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara terbimbing, sehingga hasil pembelajaran yang didapatkan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Secara keseluruhan model pembelajaran Inpro Topfre terintegrasi media yang menggabungkan model pembelajaran inquiri dan proyek  serta terintegrasi multimedia


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama enam bulan. Tempat penelitian dilaksanakan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas negeri Medan.

B.       Jenis Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran yang terintegrasi media pada mata kuliah seni patung   untuk meningkatkan kemampuan kreatifitas mahasiwa pendidikan seni rupa FBS Unimed. Berdasarkan hal itu, maka jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Alasan menggunakan penelitian  eksperimen), karena tujuannya untuk mendapatkan meningkatkan kreatifitas dan karakter mahasiswa dalam pembelajaran seni patung yang efektif dan efisien sehingga kompetensi mahasiswa meningkat. Pendekatan penelitian dengan pendekatan eksperimen yaitu dengan memberikan perlakuan pada kelompok eksperimen.

C.  Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa semester IV jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Medan, sedangkan sampel penelitian adalah seluruh semua mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Seni Patung

D.  Variabel dan Indikator Penelitian
Variabel dalam penelitian ini meliputi model pembelajaran IPRO yaitu yang menggabungkan model inquiri  dan proyek dalam mata kuliah seni patung.

E.  Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian dilaksanakan seperti pada diagram berikut ini:







BAB IV
JADWAL KEGIATAN





Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Penyusunan Proposal









Pembuatan instrumen









Pre test









Observasi sumber belajar









Pelaksanaan eksperimen









Pembuatan dokumen kerja siswa









Presentasi hasil kerja siswa









Uji kompetensi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen









Analisis data









Pembuatan laporan hasil penelitian









Penyerahan laporan hasil penelitian









Seminar hasil Penelitian













DAFTAR PUSTAKA

Baker, Erica, Breanna Trygg, Patricia Ottoet al. (2011). Project-based Learning Model, Relevant Learning for the 21st Century. Diambila pada tanggal 21 Februari 2013 dari http//www.fishwildlife.org/files/ConEd-Project-based-Learning_-Model.pdf

Collins, Allan, Stevens, Albert L (1983) Theory Name: A Cognitive Theory of Inquiry Teaching.diambil dari http//web.cortland.edu/frieda]id/idtheories/5.html pada tanggal .

Edi Supriyadi. (1999).  Sistem pengaman tenaga listrik. Adi Cita. Yogyakarta

Edmonton, Alberta. (2004). Focus on inquiri. Diunduh pada tgl 21 Februari 2013 dari http//www. Education.alberta.ca/media/313361/focusoninquiry

Joko Sutrisno. (2008).  Metode Pembelajaran Inquiry. Diambil pada tanggal 21 Februari 2013 dari http//www.erlangga.co.id/index.phpoptioncom_content&task=%2520view&id353:&Itemid435.htm


Sungkono. (2010). peningkatan hasil belajar mahasiswa  melalui pembelajaran berbasis proyek.  Diambil pada tanggal 20 Februari 2013 dari http://staff.uny.ac.id/system/files/penelitian/Sungkono,%20M.Pd./Artikel-%20PEMBELAJARAN%20BERBASIS%20PROYEK.doc

Wenning Carl J.. (2012). The Levels of Inquiry Model of Science Teaching. . Diambil pada tanggal 21 Februari 2013 dari   www. Phy.ilstu.edu/pte/publications/LOI-model-of-science-teaching.pdf

______________. (2013). Inquiry-based learning. Di unduh pada tanggal 21 Februari 2013 dari htt//pen.wikipedia.org/wiki/Inquiry-based_learning.

.














 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 RANCANGAN MODEL PEMBELAJARAN INPRO TOP FRE

 

 


OLEH :
S
OLEH :
SUMARSONO



 Latar Belakang
 
Pembelajaran yang dilakukan kurang menarik, dan membosankan
Mahasiswa kurang semangat mengikuti perkuliahan
Prestasi belajar mahasiswa rendah
 
IN = INKUIRI
PRO = PROYEK
TOP= TOPIC
F     = FEELING
R    = RESPON
E    = EVALUASI
 Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri
 
 Model Pembelajaran Proyek
 
§Project work adalah model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya. (Joko Sutrisno, 2008).
§ Erica Baker, Breanna Trygg, Patricia Otto, et al, ( 2011) peran guru dan pembelajar adalah sebagai berikut “Teachers or mentors facilitate, rather than direct, students as they explore a system, ask questions, look at problems within that system, determine solutions, plan and ultimately implement a project”. Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam pembelajaran model proyek peserta didik lebih aktif dalam proses belajar, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilittor. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran proyek dihasilkan produk sesuai dengan tujuan pembelajaran
 
§Project work adalah model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa), melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya. (Joko Sutrisno, 2008). 
 TOPIK

§Pokok bahasan atau sub pokok bahasan  yang akan disampaikan dalam pembelajaran
 FEELING
§Merasakan, mengamati terhadap topik yang sedang dipelajari atau stimulus yang diberikan oleh guru/dosen
RESPON 
§Segala aktifitas tanggapan terhadap  topik yang diberikan oleh dosen/guru
Respon dapat berupa tagihan tugas tulisan, karya seni (produk)
 EVALUASI


Tes subjektif
 
  - Soal Uraian
 
Tes Perbuatan
  - Tes Praktik / Unjuk kerja
  - Penilaian Produk
  - Kerja Proyek
  - Tes Simulasi

 STRATEGI  PEMBELAJARAN
 INPRO TOPFRE (TopFRe)


TUJUAN PEMBELAJARAN                         :
Dengan diberi teori tekstil celup ikat mahasiswa  akan dapat menyebutkan menjelaskan proses pembuatan kain celup ikat tanpa salah
Dengan melihat vedio proses pembuatan kain celup ikat, mahasiswa akan dapat membuat kain celup ikat secara mandiri dengan  benar
KEGIATAN AWAL
 
Deskripsi singkat topik perkuliahan
Apersepsi; Memotivasi mahasiswa dan mengakitkan dengan pengalaman belajar yang sudah ada pada mahasiswa
Menyampaikan Tujuan Pembelajaran;

 KEGIATAN INTI
 
Menjelaskan tentang definisi tekstil nusantara, jenis –jenis tekstil nusantara, dan Proses pembuatan kain celup ikat ( MATERI )
 Melihat Video Proses Pembuatan kain celup ikat (Feeling, merasakan proses pembuatan kain)
Berlatih membuat membuat kain celup ikat secara kelompok (Salah satu bentuk respon
KEGIATAN PENUTUP 
 

Menyimpulkan materi yang telah disampaikan
Penilaian hasil belajar; Tes formatif dan umpan balik
Tindak lanjut; Penugasan membuat kain celup ikat secara individu
 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TP UNJ-Unimed Angkatan 2013 . Powered by Blogger.

Articles

Followers