10 April 2014

Oleh Parulian Sibuea


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama siswa dalam memperoleh pengetahuan, sehingga metode ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Akibatnya guru sering mengabaikan kemampuan siswa. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang memberdayakan siswa walaupun sudah banyak model pembelajaran yang lahir untuk diterapkan, tetapi model pembelajaran PESEK ini merupakan model pembelajaran yang baru, yang memfokuskan pada siswa dan akhir pembelajaran pada kepuasan siswa dalam pencapaian kompetensi.

Model pembelajaran PESEK  adalah model pembelajaran yang tercipta dari beberapa kata yaitu
Percaya Diri, Efektivitas, Suka (Minat), Evaluasi, dan Kepuasan  yang merupakan modifikasi dari model ARCS yang dikembangkan Keller dan Kopp (1987: 2-9). Model pembelajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan kemampuan siswa dalam belajar dapat mempermudah pemahaman belajar. Maka dengan model pembelajaran ini, hasil pembelajaran lebih bermakna. Sehingga pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa sendiri ketika ia belajar.
         Dalam makalah ini penulis memaparkan pengertian apa yang dimaksud model pembelajaran ARIAS Ciptakan Inovasi Tanggap Aktif), langkah-langkahnya dan karakteristiknya. Dengan makalah ini diharapkan bisa membantu dalam menjelaskan model pembelajaran PESEK, dan agar dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud model pembelajaran PESEK?
2. Bagaimana Langkah model pembelajaran PESEK?
3. Bagaimana karakteristik model pembelajaran PESEK?

C. Tujuan Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini bertujuan agar para pembaca mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan model pembelajaran PESEK  (Percaya Diri, Efektif, Suka, Evaluasi dan Kepuasan) ,  mengetahui dan memahami tentang karakteristik dan langkah-langkah model pembelajarn PESEK. Serta tujuan lain memaparkan model pembelajaran yang baru ini agar dapat diterapkan dalam proses pembelajaran oleh para pendidik. 

BAB II PEMBAHASAN

A. Hakikat Model Pembelajaran PESEK

       Model pembelajaran PESEK  (Percaya Diri, Efektif, Suka, Evaluasi dan Kepuasan)  merupakan sebuah model pembelajaran yang terdiri dari lima komponen utama. Model pembelajaran ini merupakan alternatif bagi para guru untuk melaksanakan sebuah kegiatan pembelajaran yang baik. Selain itu, model pembelajaran PESEK memungkinkan unuk menggunakan berbagai macam strategi, metode dan atau media pembelajaran. Misalnya menggunakan metode TGT (Teams Games Tournament), Talking Stick, Tanya jawab, Numbered Heads Togeteher, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan berbagai media inovatif dalam model pembelajaran PESEK dimaksudkan untuk menunjang  aspek minat dan kesenangan siswa. Kolaborasi antara strategi, metode dan media pembelajaran inilah yang membuat penerapan pembelajaran PESEK di kelas menjadi sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, menyenangkan serta memuaskan siswa.
     Model pembelajaran PESEK merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987: 2-9)  sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).
Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur. Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa. Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran menurut dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.
        Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi/efektivitas); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence. Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (suka) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi dengan mengambil istilah-istilah dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami menjadi Percaya Diri, Efektif, Suka, Evaluasi, dan Kepuasan. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada efektivitasnya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/kesukaan siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata PESEK sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran PESEK.

B. Komponen Model Pembelajaran PESEK

       Seperti yang telah dikemukakan model pembelajaranPESEK terdiri dari lima komponen (Percaya Diri, Efektif, Suka, Evaluasi, dan Kepuasan) yang disusun berdasarkan  teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan
pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkannya kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. 

1. Percaya Diri

       Komponen pertama model pembelajaran PESEK adalah percaya diri, yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut teori Bandura seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Muhibbin, 2009: 76). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus (Mudjiono, 1994: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah: 
  • Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa. Menurut Martin dan Briggs (1986: 427-433)  penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura seperti dikutip sudah dilakukan secara luas di sekolah-sekolah.
  • Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).
  •  Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
  •  Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.  
  •  

2. Effektifitas

Komponen kedua model pembelajaran PESEK, Eketivitas, yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987: 2-9). Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang  jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah: 
  • Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.
  •  Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.
  •  Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai- nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang.
  • Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran. 

3. Suka (Minat)

Komponen ketiga model pembelajaran PESEK, Suka, adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Keller (1987: 383-430) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Keller (1987:11-14) menunjukkan bahwa adanya minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai dengan minat/perhatian mereka. Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain adalah:
  • Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari biasa dalam pembelajaran.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya para siswa diajak diskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan pertanyaan atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan.
  •  Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.
  •  Mengadakan komunikasi nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi dapat dilakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.

4. Evaluasi

Komponen keempat model pembelajaran PESEK adalah Evaluasi, yaitu yang berhubungan dengan penilaian terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid. Bagi guru menurut evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa; untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok; untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Bagi siswa, evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi. Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya (Mudjiono, 1994). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin (1987: 11-14) bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan belajar atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa yang dikemukakan Keller  (1987: 76) bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
  • Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
  •  Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
  •  Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
  •  Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.

5. Kepuasan/Rasa Bangga

Komponen kelima model pembelajaran PESEK  adalah Kepuasan,  yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah reinforcement (penguatan). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya. Reinforcement atau penguatan yang dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa adalah penting dan perlu dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Keller berdasarkan teori kebanggaan, rasa puas dapat timbul dari dalam diri individu sendiri yang disebut kebanggaan intrinsik di mana individu merasa puas dan bangga telah berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu. Kebanggaan dan rasa puas ini juga dapat timbul karena pengaruh dari luar individu, yaitu dari orang lain atau lingkungan yang disebut kebanggaan ekstrinsik (Keller dan Kopp, 1987: 2-9). Seseorang merasa bangga dan puas karena apa yang dikerjakan dan dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal maupun nonverbal dari orang lain atau lingkungan.
Memberikan penghargaan (reward) menurut Thorndike seperti dikutip oleh Sagala, 2010: 14) merupakan suatu penguatan (reinforcement) dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, memberikan penghargaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk itu, rasa bangga dan puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain :
  • Memberi penguatan (reinforcement), penghargaan yang pantas baik secara verbal maupun non-verbal kepada siswa yang telah menampilkan keberhasilannya. Ucapan guru : "Bagus, kamu telah mengerjakannya dengan baik sekali!". Menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda setuju atas jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan, merupakan suatu bentuk penguatan bagi siswa yang telah berhasil melakukan suatu kegiatan. Ucapan yang tulus dan/atau senyuman guru yang simpatik menimbulkan rasa bangga pada siswa dan ini akan mendorongnya untuk melakukan kegiatan lebih baik lagi, dan memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan yang baru diperoleh dalam situasi nyata atau simulasi.
  •  Memperlihatkan perhatian yang besar kepada siswa, sehingga mereka merasa dikenal dan dihargai oleh para guru.
  •  Memberi kesempatan kepada siswa untuk membantu teman mereka yang mengalami kesulitan/memerlukan bantuan.

C. Penggunaan Model Pembelajaran PESEK

Penggunaan model pembelajaran PESEK perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran misalnya. Satuan pelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan pelajaran sebagai bahan/materi bagi siswa. Satuan pelajaran sebagai pegangan bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah mengandung komponen-komponen PESEK. Artinya, dalam satuan pelajaran itu sudah tergambarkan usaha/kegiatan yang akan dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri pada siswa, mengadakan kegiatan yang Efektif, membangkitkan kesukaan/minat siswa, melakukan evaluasi dan menumbuhkan rasa dihargai/bangga pada siswa. Guru atau pengembang sudah merancang urutan semua kegiatan yang akan dilakukan, strategi atau metode pembelajaran yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan dipakai, perlengkapan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara penilaian akan dilaksanakan. Meskipun demikian pelaksanaan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan situasi, kondisi dan lingkungan siswa. Demikian juga halnya dengan satuan pelajaran sebagai bahan/materi untuk siswa. Bahan/materi tersebut harus disusun berdasarkan model pembelajaran PESEK. Bahasa, kosa kata, kalimat, gambar atau ilustrasi, pada bahan/materi dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa, bahwa mereka mampu, dan apa yang dipelajari ada relevansi dengan kehidupan mereka. Bentuk, susunan dan isi bahan/materi dapat membangkitkan minat/perhatian siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan evaluasi diri dan siswa merasa dihargai yang dapat menimbulkan rasa bangga pada mereka. Guru dan/atau pengembang agar menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, kata-kata yang jelas dan kalimat yang sederhana tidak berbelit-belit sehingga maksudnya dapat dengan mudah ditangkap dan dicerna siswa. Bahan/materi agar dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik dalam jumlah yang cukup. Gambar dapat menimbulkan berbagai macam khayalan/fantasi dan dapat membantu siswa lebih mudah memahami bahan/materi yang sedang dipelajari.
Siswa dapat membayangkan/mengkhayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sebagai apa saja. Bahan/materi disusun sesuai urutan dan tahap kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan keingintahuan dan memungkinkan siswa dapat mengadakan evaluasi sendiri.


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PESEK DALAM PEMBELAJARAN MENULISKAN TEKS ANEKDOT.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan         : Sekolah Menengah Atas
Mata Pelajaran                 : Bahasa Indonesia 
Kelas / Semester            : X / Semester 1
Tema                                      : Humor dalam Layanan Publik
 Jumlah Pertemuan         : 4 X pertemuan (8 jam pelajaran)
Pertemuan ke                    : 1

A. Kompetensi Dasar
1.1   Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis informasi lisan dan tulis melalui teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi
2.1  Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot mengenai permasalahan sosial, lingkungan, dan kebijakan publik
3.2  Membandingkan teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi baik melalui lisan maupun tulisan
4.2 Memproduksi teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi
yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan mupun tulisan

B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1.    Mengidentifikasi persamaan teks anekdot dengan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya menggunakan bahasa Indonesia secara  santun.
2.   Mengidentifikasi perbedaan teks ankedot dengan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya menggunakan bahasa Indonesia secara  santun.
3.   Membuat teks anekdot sesuai dengan struktur isi dan fitur bahasa teks anekdot (abstrak, orientasi, krisis, respon, koda), fituri bahasa  (pertanyaan retoris, proses material, konjungsi temporal), dan kelucuan dengan bahasa yang santun

C. Tujuan Pembelajaran

1.    Setelah menyimak tayangan humor/anekdot, siswa dapat menunjukkan rasa syukur atas keberadaan bahasa Indonesia yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi, hiburan, dan kritik sosial
2.    Selama proses pembelajaran, siswa menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia secara santun.
3.    Setelah membaca teks anekdot dan teks humor, siswa dapat mengidentifikasi persamaan teks anekdot dengan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya.
4.   Setelah membaca teks anekdot dan teks humor, siswa dapat mengidentifikasi perbedaan teks ankedot dengan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya.
5.   Setelah mengamati beberapa fenomena tentang layanan publik, siswa dapat menentukan topik teks anekdot yang hendak ditulis.
6.   Berdasarkan topik yang telah ditentukan, siswa dapat menulis teks anekdot sesuai dengan struktur isi dan fitur bahasa teks anekdot menggunakan bahasa yang santun.

D. Materi
1.     Contoh teks anekdot dan teks humor
2.     Struktur  teks anekdot dan teks humor
3.     Teknik  menyusun perbadingan
4.     Teknik menulis teks anekdot

E. Metode
·         Pendekatan       : Saintifik (Model pembelajaran Pesek)
·         Metode                 : Curah pendapat,  diskusi, dan penugasan

F. Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan Pertama
Pendahuluan (10 menit)
1.     Salah seorang siswa memimpin berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.   Curah pendapat tentang fungsi teks anekdot dan teks humor dalam kehidupan sehari-hari setelah menyimak tayangan humor/anekdot.
3.   Mengekspresikan rasa syukur atas keberadaan bahasa Indonesia setelah menyimak tayangan teks humor/anekdot.
4.     Menyampaikan  tujuan pembelajaran.
5.    Menyepakati kegiatan yang akan dilakukan.
    
Inti (60 menit)
a.      Percaya Diri
  1. Siswa Mengamati (membaca) contoh teks anekdot dan teks humor  di buku ajar.
  2. Siswa Menanyakan butir-butir penting terkait struktur isi dan fitur bahasa teks anekdot.
  3. Siswa Menanyakan butir-butir penting terkait struktur isi dan fitur bahasa teks humor.
b.      Efektivitas
·   Siswa Mendiskusikan persamaan teks anekdot dan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya (mengeksplorasi dan mengasosiasi)
·   Siswa Mendiskusikan perbedaan teks anekdot dan teks humor dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya (mengeksplorasi dan mengasosiasi)
c.       Suka
·Menyampaikan dan menjelaskan hasil diskusi kelompok dalam diskusi kelas (mengomunikasikan)
d.      Evaluasi
 Memberi tanggapan baik berupa pertanyaan, sanggahan atau dukungan secara santun (Mengasosiasi)
e.     Kepuasan
·Penguatan dari guru dalam mengumumkan hasil kerja kelompok terbaik
 Penutup (10 menit)
1.     Membuat rangkuman
2.     Melakukan refleksi, misalnya mereviu bagian mana yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
3.     Mencatat informasi tentang tugas untuk pertemuan kedua, yaitu mencari teks anekdot dan teks humor, serta mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya.
4.     Mencatat bahwa pada pertemuan kedua akan didiskusikan hasil temuan dari tiap siswa.
5.    Salah seorang siswa memimpin berdoa untuk mengakhiri pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
     G. Media dan Sumber  Belajar
      Media
  • Video humor/anekdot
  • Beragam contoh teks anekdot dan humor dari internet
    Sumber Belajar
Buku Teks Bahasa Indonesia SMA. Ekpresi Diri dan Akademik. 2013. Jakarta: Kemendikbud.

G. PENILAIAN
Teknik dan Bentuk Instrumen
Teknik
Bentuk Instrumen
Observasi
Lembar pengamatan sikap dan rubrik
Tes Tulis
Tes uraian, menemukan persamaan dan perbedaan teks anekdot dan humor dan Rambu-rambu jawaban

Contoh Instrumen
Lembar Pengamatan Sikap
No.
Aspek
Skor
Catatan
1
2
3
  • Skor 3 jika memenuhi 3 kriteria
  • Skor 2 jika hanya memenuhi 2 kriteria
  • Skor 1 jika hanya memenuhi 1 kriteria
1.
Mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia



2.
Kesantunan dalam menggunakan bahasa Indonesia




Rubrik Penilaian Sikap
No.
Aspek
Deskripsi
1.
Rasa syukur atas keberadaan bahasa Indonesia
  • Menunjukkan ekspresi atau ungkapan senang, kagum.
  • Menunjukkan sikap yakin dan bangga terhadap keberadaan bahasa Indonesia
  • Selalu menggunakan bahasa Indonesia secara tertib.
2.
Kesantunan dalam menggunakan bahasa Indonesia
  • Kalimat yang digunakan komunikatif
  • Pilihan kata yang digunakan dalam diskusi menggunakan kata-kata halus seperti tolong, saya harap, menurut pendapat saya, dsb.
  • Sebelum memberi tanggapan/menyela terlebih dahulu meminta kesempatan kepada ketua kelompok/moderator

Tes Uraian
  1. Bacalah teks anekdot dan teks humor berikut!
  2. Temukan persamaan kedua teks tersebut dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya!
  3. Temukan perbedaan kedua teks tersebut dilihat dari struktur isi dan fitur bahasanya!


BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

 A. Kesimpulan

       Model pembelajaran PESEK terdiri dari lima komponen (Percaya Diri, Efektivitas, Suka, Evaluasi, dan Kepuasan). Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
        Makna dari Model pembelajaran PESEK ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada efektivitasnya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/kesukaan siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement).
Penggunaan model pembelajaran PESEK perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran misalnya. Satuan pelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan pelajaran sebagai bahan/materi bagi siswa. Satuan pelajaran sebagai pegangan bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah mengandung komponen-komponen PESEK. 

B. Saran

Makalah model pembelajaran PESEK (Percaya Diri, Efektivitas, Suka, Evaluasi, dan Kepuasan) diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu referensi dalam pengajaran maupun dalam pembelajaran tapi sebelumnya dibutuhkan kritikan yang membangun untuk terciptanya model pembelajaran PESEK sebelum diterapkan.
 
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, dan Mudjiono. 1994. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Keller, John M. dan Thomas W. Kopp. 1987. An application of the ARCS model of motivational design, , Instructional  theories in action, 289-319. Hillsdale.
Muhibbin Syah. 2009.  Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
 

TP UNJ-Unimed Angkatan 2013 . Powered by Blogger.

Articles

Followers