29 March 2014
Penulis: Sanggup Barus

Oleh Sanggup Barus
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan 

A. Pendahuluan

Kemampuan berbahasa Indonesia memiliki empat komponen, yaitu kemampuan menyimak, kemampuan berbicara, kemampuan membaca, dan kemampuan menulis. Ini berarti bahwa kemampuan membaca merupakan salah satu komponen kemampuan berbahasa Indonesia. Pembelajarannya dilakukan di SD, SMP, dan SMA. Di perguruan tinggi pembelajarannya dilaksanakan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan selama satu semester. Tujuan pembelajarannya adalah meningkatkan kemampuan membaca siswa atau mahasiswa.
Di dalam Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP dinyatakan bahwa salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinetik yang sesuai dengan isi puisi.
Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa kemampuan membaca indah puisi siswa di SMP masih relatif rendah. Hal ini diketahui melalui wawancara dengan beberapa guru Bahasa Indonesia SMP. Menurut mereka, kegiatan membaca indah puisi di sekolah pada umumnya belum memuaskan, masih memperihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca indah puisi siswa masih rendah.
Sesuai dengan fenomena itu, pada umumnya siswa juga mengalami kesukaran dalam belajar membaca indah puisi sehingga para guru merasa kurang puas terhadap tampilan siswa membaca indah puisi itu. Tampilan siswa sering terasa kaku, tidak atau kurang sesuai irama, mimik, dan pantomimik dengan isi puisi yang dibacakannya. Rendahnya kemampuan membaca indah puisi siswa dapat disebabkan berbagai alternatif penyebab.
Rendahnya kemampuan membaca mereka dapat disebabkan minat dan motivasi belajar mereka yang rendah; strategi, metode, atau teknik pembelajaran yang kurang relevan; dapat juga disebabkan bahan pembelajarannya yang kurang relevan, dan sebagainya.
Salah satu hal yang menarik perhatian di antara penyebab-penyebab itu ialah metode pembelajaran. Di dalam pembelajaran membaca indah puisi, masih banyak guru yang menekankan pembelajaran ceramah tentang teori membaca indah puisi, sedangkan pemberian latihan beserta evaluasinya sangat kurang. Ini berarti bahwa guru cenderung menggunakan strategi pembelajaran ekspositori.
Hal semacam itu sebenarnya tidak boleh lagi terjadi karena gaya mengajar sekarang sudah berubah ke gaya mengajar student centered instruction. Sutikno (2006:58) menyatakan, “Model pendidikan dan pembelajaran yang didominasi kegiatan ceramah, yang menempatkan guru sebagai figur sentral dalam proses pembelajaran di kelas karena banyak berbicara, sementara siswa hanya duduk manis menjadi pendengar pasif dan mencatat apa yang diperintahkan guru, harus segera ditinggalkan”.
Lagi pula, adalah suatu hal yang kurang logis jika siswa dapat memiliki kemampuan membaca indah puisi melalui pembelajaran yang bermetode ceramah. Oleh karena itu, seyogianya dalam perencanaan pembelajaran membaca, khususnya pembelajaran membaca indah puisi, guru memilih model, strategi, atau metode pembelajaran yang benar-benar relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran. Untuk menanggapi persoalan di atas, dapat dikembangkan sebuah model pembelajaran yang relevan untuk pembelajaran membaca indah puisi, yaitu model pembelajaran M4. Dengan model pembelajaran itu siswa dapat berlatih membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinetik yang sesuai dengan isi puisi. Dengan menggunakan model pembelajaran itu diharapkan siswa dapat belajar membaca indah puisi secara aktif dan kreatif.

B. Model Pembelajaran M4

Singkatan M4 kepanjangannya adalah mendengarkan petunjuk, mengobservasi, meniru, dan mengubah. Jadi, dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran M4 adalah bentuk pembelajaran yang dimulai dengan mendengarkan petunjuk dari guru mengenai materi dan objek yang akan dipelajari, kemudian mengobservasi objek, meniru, dan mengubahnya. Hal ini sejalan dengan teori yang dinyatakan oleh Albert Bandura (dalam Syahdan, 2010:8), yaitu (1) belajar dari model, (2) belajar vicarious dan (3) pengaturan sendiri. Selain itu, model pembelajaran ini sesuai dengan pandangan Bloom dan Krathwohl, yaitu perolehan kemampuan dalam kawasan psikomotor dengan peniruan (menirukan gerak) (Budiningsih, 2005:75). Langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran M4 ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Mendengarkan petunjuk

Pada langkah pertama ini, siswa mendengarkan petunjuk dari guru tentang materi pembelajaran apa yang harus dipahami dan dilatihkan mereka sehingga keterampilan tertentu dapat dimiliki dengan baik. Siswa harus mengetahui aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan dan ditampilkan dalam berlatih. Untuk mengikuti langkah kedua, mengobservasi, siswa harus mengetahui aspek-aspek apa saja yang harus diamati secara cermat pada objek atau action yang akan diamati.

2. Mengobservasi objek

Pada langkah kedua ini, siswa menyerap pengalaman orang lain yang dapat berupa karya orang lain atau action orang lain. Agar dapat menirunya secara tepat pada langkah ketiga, mereka mengobservasi semua aspek yang telah dinyatakan sebelumnya. 3. Meniru Pada langkah ini,siswa menirukan objek yang telah diamatinya sesuai dengan aspek-aspek yang telah dicermatinya ketika mereka mengobservasi objek pada langkah kedua. Dalam hal ini, keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh kemampuannya mengobservasi objek.

4. Mengubah

Pada langkah keempat ini, siswa harus dapat menilai aspek mana saja yang dapat diubah menjadi lebih memberi makna dan lebih menarik. Pada langkah ini siswa diberi peluang untuk kreatif. Sesuai dengan penilaiannya, siswa melakukan kembali perbuatan atau action itu secara kreatif. Dalam hal inilah, kecerdasan tubuh atau gerak tubuh (body/ kinestetic intelligence) sebagaimana yang dimaksudkan teori Gardner (Budiningsih,2005:114) sangat diperlukan oleh siswa. Demikianlah langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaaran M4 ini. Selain dapat melatih siswa untuk memperoleh keterampilan tertentu, daya kreativitas mereka dapat dikembangkan. Penggunaan model pembelajaran ini dapat memberi  motivasi belajar kepada siswa dan akhirnya dapat juga memunculkan rasa percaya diri yang lebih kuat daripada sebelumnya.

C. Aplikasinya dalam Pembelajaran Membaca Indah Puisi

 Klik Gambar di atas untuk melihat presentasi multimedia

Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Sesuai dengan prosedur itu, aplikasi model pembelajaran M4 dapat diuraikan sebagai berikut.  

1. Kegiatan Awal

Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
  • Guru menyampaikan salam pembuka kepada para siswa.
  • Menciptakan suasana yang kondusif sambil mengabsensi siswa.
  • Melakukan appersepsi.
  • Guru menyampaikan KD yang harus dicapai siswa, yaitu mampu membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi.
  • Guru memotivasi siswa untuk belajar.  

2. Kegiatan Inti


Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
  1)      Siswa mendengarkan petunjuk dari guru mengenai hal-hal berikut.
  1. Siswa terlebih dahulu membaca dalam hati dan memahami isi puisi.
Contoh puisi:
DIPONEGORO
Karya Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berslempang semangat yang tak bisa mati
Maju
Ini barisan tak bergenderang- berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

  1. Dalam membaca puisi keindahan dapat dicapai dengan irama, volume suara, mimik, dan kinesika yang sesuai (Suharma, dkk,2010:95). Oleh karena itu, dalam membaca indah puisi, siswa harus dapat mewujudkan kesesuaian irama (penempatan jeda, ketepatan intonasi, dan penekanan pada puisi), kesesuaian volume suara (tinggi-rendahnya nada sesuai dengan pelafalan yang jelas), kesesuaian mimik atau ekspresi (ekspresi wajah yang ditampilkan harus sesuai dengan keseluruhan isi puisi), kesesuaian gerak tubuh (gerak tubuh harus luwes atau tidak kaku dan gerak sesuai dengan isi dan tuntutan puisi).
2)      Siswa mengobservasi suatu tampilan pembacaan puisi melalui video. Dalam kegiatan ini siswa harus mengamati secara cermat bagaimana kesesuaian irama, volume suara, mimik atau ekspresi, dan kesesuaian gerak tubuh.
3)     Siswa meniru tampilan pembacaan puisi yang telah diobservasinya melalui video. Dalam kegiatan ini siswa tampil membaca indah puisi sesuai dengan irama, volume suara, mimik atau ekspresi, dan gerak tubuh dari model yang ditiru.
4)      Siswa menilai tampilan pembacaan puisi yang telah diobservasi dan dilakukannya dan aspek mananya yang harus diubah (menyangkut irama, volume suara, mimik atau ekspresi, dan gerak tubuh) sehingga tampilan pembacaan akan lebih jelas memberi makna dan lebih menggugah hati para audiens. Setelah melakukan penilaian dan menentukan aspek yang perlu dan dapat diubah, siswa kembali membacakan puisi secara kreatif. Latihan ini harus dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan teori koneksionisme dari Edward L. Thorndike, yaitu low of exercises ‘hukum latihan’.

3. Kegiatan akhir

Pada tahap ini kegiatan – kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

  • Siswa mendengarkan petunjuk dan masukan dari guru berkaitan dengan praktik membaca indah puisi yang telah dilakukan.
  • Guru memberi bahan latihan membaca indah puisi.
  • Guru menyampaikan salam penutup. Aspek dan indikator penilaian kemampuan membaca indah puisi ini dapat dibuat sebagai berikut.  
  • Aspek Penilaian Kemampuan Membaca Indah Puisi

No
Aspek yang Dinilai
Indikator
Skor
1.Ketepatan Irama
  1. Penempatan jeda, ketepatan intonasi, dan penekanan pada puisi sudah tepat
  2. Penempatan jeda dan penggunaan intonasi sudah tepat, tetapi penekanan pada puisi kurang tepat
  3. Penempatan jeda sudah tepat, tetapi intonasi dan penekanan pada puisi kurang tepat
  4. Penempatan jeda, ketepatan intonasi,dan penekanan pada puisi masih kurang
25


20



15



10
2.Kesesuain Volume Suara
  1. Tinggi-rendahnya nada sesuai pelafalan sudah jelas
  2. Tinggi-rendahnya nada sudah sesuai, tetapi pelafalan masih kurang jelas
  3. Tinggi-rendahnya nada kurang sesuaidan pelafalan kurang jelas
  4. Tinggi-rendahnya nada tidak sesuai dan pelafalan tidak jelas
25

20


15


10
3.Kesesuai Mimik atau Ekspresi
  1. Ekspresi wajah yang ditampilkan sesuai dengan keseluruhan isi puisi
  2. Ekspresi wajah yang ditampilkan kurang sesuai dengan keseluruhan isi puisi
  3. Ekspresi wajah yang ditampilkan belum memenuhi keseluruhan isi puisi
  4. Tidak menampilkan ekspresi wajah yang sesuai dengan keseluruhan isi puisi
25


20


15


10
4.Kesesuain Kinesika (gerak tubuh)
  1. Gerak tubuh luwes atau tidak kaku dan gerak sesuai dengan isi dan tuntutan puisi
  2. Gerak tubuh kurang luwes, tetapi masih sesuai dengan isi dan tuntutan puisi
  3. Gerak tubuh kurang luwes dan gerak kurang sesuai dengan isi dan tuntutan puisi
  4. Gerak tubuh kaku dan geraktidak sesuai dengan isi dan tuntutan puisi
25


20


15


10
Nilai siswa dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dalam hal ini, NS= nilai siswa SP= skor perolehan siswa SM= skor maksimal Lalu, pengkategorian nilainya dapat dibuat sebagai erikut: 85-100  = sangat baik 70-84 = baik 60-69 = cukup baik 55-59 = kurang baik 0-54 = tidak baik

D. Penutup

Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
  1. Model pembelajaran M4 adalah pola atau bentuk pembelajaran yang dimulai dengan mendengarkan petunjuk, kemudian mengobservasi objek, meniru, dan mengubah.
  2. Model pembelajaran ini dapat diaplikasikan dalam pembelajaran membaca indah puisi di sekolah.
  3. Model pembelajaran M4 dapat digunakan untuk pembelajaran keterampilan dan penggunaanya dapat mengembangkan daya kreativitas, menarik perhatian, dan memberi motivasi belajar kepada siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C.A. 2005. Belajar dan Pembahasan. Jakarta : Rineka Cipta Suharma dkk. 2010. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bogor : Yudhistira Sutikno

M.S. 2006. Pendidikan Sekarang dan Masa Depan : Suatu Refleksi untuk        Mewujudkan Pendidikan yang Bermakna. Mataram : NTP Press

Syahdan, K. 2010. Pembelajaran Menulis dengan Strategi Pemodelan ( Suatu   Model Pembelajaran Menulis dengan Proses dan  Produk ). Diunduh dalam jurnal Online http://kamsyahdan.wordpress.com/2010/12/.diakses 20 Januari 2014, pukul 10.35 WIB

Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya


TP UNJ-Unimed Angkatan 2013 . Powered by Blogger.

Articles

Followers